CONTOH PENTIGRAF

 KESETIAAN


Sore ini suasana tidak seperti biasanya. Taman depan rumah pamanku sudah kembali ramai dikunjungi penghuni kompleks. Hampir setahun taman itu sepi pengunjung semenjak ada pandemi Corona .Meski mereka kini masih menggunakan masker tapi suara ceria jelas terdengar. Pengunjung taman sore ini didominasi ibu ibu yang mengasuh anak anak mereka. Hampir semua bangku taman penuh terisi. Anak-anak bermain kejar kejaran, sedang ibu ibunya bergerumbul menunggui anak anaknya. Semakin sore, pengunjung taman semakin bertambah. Aku asyik menikmati pemandangan ini. 


Saat mentari semakin condong ke barat dan lembayung senja mulai turun, satu persatu pengunjung  mulai meninggalkan taman. Suasana sudah mulai hening. Aku pun hendak beranjak meninggalkan balkon. Tapi langkahku tiba tiba terhenti. Kulihat ada seorang gadis memasuki gerbang taman kompleks. Seolah tak peduli keadaan yang mulai gelap, dia melangkah menuju bangku taman yang biasanya jarang diduduki pengunjung taman.


Langkah kakinya tampak berat seakan ada yang membebani langkahnya. Sebelum dia duduk, diletakannya seikat bunga mawar putih yang tadi digenggamnya di sudut bangku taman. Kulihat dia menyeka ujung matanya dan dengan gerakan lembut diusapnya sandaran bangku yang akan didudukinya. Terlihat samar , pandangan matanya menerawang. Sesekali ditutup mukanya dengan kedua tangannya. Karena keadaan yang semakin malam, aku tak dapat melihat raut wajahnya dengan jelas. Yang kutahu, dia seperti seusiaku. Secara samar , seolah aku pernah melihat wajahnya. Dan benar, saat lampu taman mulai dinyalakan, tampak jelas wajah gadis itu. Aku menjadi terkesima saat mengenali wajah gadis itu. Dia adalah tunangan saudara sepupuku yang telah tiada. Mereka gagal menikah karena saudara sepupuku tiba tiba meninggal di hari pernikahan mereka. Peristiwa itu telah berlalu 5 tahun yang lalu, dan kudengar tunangannya sampai saat ini belum mencari pasangan lagi. Saat kuingat, ternyata hari ini tepat 5 tahun kakak sepupuku meninggal. Aku pun jadi terbawa suasana. Setitik bulir air mata menetes tak tertahan. Begitu setianya gadis itu menjaga hatinya untuk calon suaminya yang telah tiada. Semoga dia mendapatkan pasangan yang baru, dan kakak sepupuku mendapat tempat yang layak di sisi -Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENTIGRAF